Minggu, 03 April 2011

karya tulis rifqi abdullah tahun 2011-04-10

karya tulis tanpa gambar, gambarnya ada di klik link ini :
https://docs.google.com/document/d/13htlWHePy3DDC9OtHfg71bLZSVHbNewtq7zll7jlFdQ/edit?hl=in#
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000413755071 
https://www.google.com/accounts/ManageAccount 
http://zonamusikeras.blogspot.com/ 
 

https://docs.google.com/?authuser=0#query/vr?view=2&filter=documents&mine=0
ps://docs.google.com/?authuser=0#home
https://docs.google.com/document/d/1GHZHAp-BfkxPuEAzz3j4WAGxJczA6FsZVnGQ1oS7Yl/edit?hl=in# https://docs.google.com/?authuser=0#home
 https://docs.google.com/?authuser=0#home
 https://docs.google.com/document/d/1GHZHApBfkxPuEAzz3j4WAGxJczA6FsZVnGQ1oS7Yl/edit?hl=in#
BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Batik adalah seni kebudayaan Indonesia atau kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi menjadi bagian dari budaya Indonesia (Khususnya Jawa) sejak lama Perempuan-perempuan membatik sebagai mata pencaharian, sehingga dimasa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif Perempuan sampai di temukanya “Batik Cap” yang memungkinkan Kaum Laki-laki masuk dalam bidang ini. Dalam era sekarang ini, batik sudah seakan terangkat derajatnya. Apalagi sekarang batik sudah di daftarkan sebagai Aset Warisan Budaya Bangsa Indonesia yaitu yang telah diresmikannya sebagai Aset Budaya asli milik Indonesia oleh UNESCO  pada tanggal 2 Oktober 2009. Untuk untuk itu penulis membuat karya tulis ini dengan memilih judul “ESENSI KARYA SENI BATIK SEBAGAI ASET KOTA PEKALONGAN”.

1.2  Rumusan masalah
1.2.1        Bagaimana Asal-usul dan sejarah Batik Pekalongan
1.2.2        Apa Motif Batik sebagai ciri khas Pekalongan
1.2.3        Mengapa Batik di anggap sebagai ciri khas Pekalongan

1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Untuk mengetahui Asal-usul dan sejarah Batik Pekalongan
1.3.2        Untuk mengetahui Batik ciri khas Pekalongan
1.3.3        Untuk mengetahui alasan Batik sebagai ciri khas Pekalongan

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Agar mengetahui Batik sebagai Aset Warisan Bangsa
1.4.2        Agar mengetahui “ESENSI KARYA SENI BATIK SEBAGAI ASET KOTA PEKALONGAN”
1.4.3        Agar mengetahui manfaat Batik Pekalongan



1.5  Metode Penelitian
Adalah metode-metode penulisan dasar karya tulis ini menggunakan metode sebagai berikut :
1.5.1        Metode Observasi
Yaitu suatu metode penyusunan data dengan menggunakan pengamatan terhadap objek.
1.5.2        Metode Dokumentasi
Yaitu suatu metode penyusunan data dengan mengumpulkan mengkaji buku-buku,serta gambar yang mendukung dalam penyusunan karya tulis.
1.5.3        Metode library (perpustakaan)
Yaitu metode penyusunan data dengan cara, mengumpulkan data dari membaca buku-buku perpustakaan untuk dijadikan referensi.
1.5.4        Metode wawancara
Yaitu suatu metode penyusunan data dengan cara, mengajukan berupa pertanyaan kepada narasumber/tour giede.

1.6  Sistematika Penulisan
Untuk lebih jelasnya  karya tulis ini disusun menjadi beberapa bab diantaranya :
BAB I Berisi tentang Pendahuluan,Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian,dan Sistematika Penulisan
BAB II Berisi tentang Pendahuluan Landasan Teori dari judul “ESENSI KARYA SENI BATIK SEBAGAI ASET KOTA PEKALONGAN” Jenis Motif Batik,Berbagai Macam Batik, di Indonesia, Proses Pembuatan Batik, Aset dan Karya Seni, Asal-usul Kota Pekalongan, dan Kota Pekalongan sebagai Kota Batik.
BAB III Berisi Pembahasan tentang Asal-usul Batik Pekalongan, Sejarah Batik Pekalongan, Motif Batik sebagai ciri khas Pekalongan, Alasan Batik sebagai ciri khas Pekalongan.
BAB IV Berisi tentang penutup Kesimpulan dan Saran.




BAB II
LANDASAN TEORI



2.1 Esensi
Esensi adalah inti sari atau ciri khas dari suatu benda atau barang dan dalam karya tulis ini yang dimaksud adalah esensi seni dalam setiap Motif Batik Pekalongan yang kemudian di pandang sebagai karya seni dalam Batik Pekalongan.

2.2 Batik
2.2.1 Pengertian Batik
Kata Batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik” yang berarti  titik. Berarti secara bahasa Batik adalah menulis dengan menggambar objek dalam bentuk titik-titik. Dan Batik secara istilah adalah menggambar Motif di atas lembaran kain dengan menggunakancanting dan cairan malam.
2.2.2 Berbagai macam Batik di Indonesia
Batik adalah kerajinan yang memiliki seni dan telah menjadi bagian dari Budaya Indonesia sejak lama. Berdasarkan penelitian dan penulusuran penulis untuk mendapat informasi tentang Batik beberapa orang berpendapat Batik sudah sangat lama di Indonesia dan awalnya Batik di kerjakan oleh kaum perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan ketrampilan membatik adalah pekerjaan Eksklusif Perempuan ssampai ditemukanya “Batik Cap” yang menghasilkan kaum Laki-laki masuk dalam bidang ini. Sebagai warga Indonesia kita harus bias bangga karena di Indonesia banyak sekali keanekaragaman Suku Budaya, Adat-istiadat, Agama dan Kesenian yang begitu beraneka Ragam. Salah satunya dalam bidang fashion. Di Indonesia terdapat kain bermotif yang tidak dapat di kunjungi Negara lain dan memiliki corak yang unik sekaligus menarik. Kain tersebut biasa kita sebut dengan kain Batik corak dan motif Batik Indonesia sangat banyak, ada yang merupakan asli dari nenek moyang Bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.
Berikut contoh berbagai Batik yang terdapat di Indonesia diantaranya :
a.          Batik Keraton
Gb.1 Batik kraton
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri Kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya Motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “Biasa” seperti Motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa Motif lainnya.

b.         Batik sudagaran
Gb.2 Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan Keraton merangsang Seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan Motif baru yang sesuai selera masyarakat Saudagar. Mereka juga mengubah Motif larangan sehingga Motif tersebut dapat dipakai Masyarakat umum. Desain Batik Sudagaran umumnya terkesan “Berani” dalam  pemilihan  bentuk,  stilisasi atas   benda-benda     alam     atau       Satwa, maupun  kombinasi  warna yang  didominasi    warna    soga dan    biru     tua,    
Batik Sudagaran menyajikan    kualitas   dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah Batik Keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta Batik yang amat indah.



c.       Batik Petani
Gb.3 Batik Petani
Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan Ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya Batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke Saudagar.
d.         Batik Belanda
Gb.4 Batik Belanda






Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan Batik Indonesia. Mereka membuat Motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti Tulip dan Motif Tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.
e.          Batik Jawa Hokokai
Gb.5 Batik Jawa Hokokai
              Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam Batik Tulis yang disebut Batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua Batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti Motif Parang dan Kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi

2.2.1 Jenis Motif Batik
Kali ini penulis ingin mengulas tentang motif-motif Batik Pekalongan. Karena selama ini orang hanya mengenal “Batik” sebagai salah satu kain tradisional, tanpa tahu asal-usul batik tersebut. Padahal ada berbagai macam batik menurut daerah asalnya terutama  daerah Jawa, seperti Batik Yogyakarta, batik Pekalongan, Batik Solo, Batik Cirebon.
Bahkan sebenarnya di daerah di luar Jawa pun mempunyai Batik dengan ciri khas tersendiri. Namun kali ini saya akan mengulas tentang Batik dari daerah diatas. Dibawah ini ada beberapa gambar motif dari daerah-daerah tersebut.
a.     Batik Pekalongan
Gb.6  Obar-abir
Gb. 8  Dewa-dewa
Gb.10 Tiga Negeri
Gb.11  Garuda
Gb.9 Elica Woman Sarong
Gb.7  Primisan
















                        



Gb.12 Sarong Van Zul Yen
Gb.14 Jlamprang
Gb.13 Pesisir




b.    Batik Yogyakarta
Gb.16 Parang Barong
Gb.15 Parang Curiga
Gb.18 Parang Rusak
Gb.17 Tirta Teja












c.     Batik Solo
Gb.19 Tiga Negeri Solo
Gb.20 Motif Salo
Gb.21 Bung Harto







d.    Batik Cirebon
Gb.22 Kompeni
Gb.23 Gadis Cina
Gb.24 Penjual Legen








2.2.4 Perkembangan Batik di Indonesia
Berdasarkan yang telah dilakukan penulis  untuk mengetahui tentang sejarah perbatikan Indonesia berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan Batik banyak dilakukan pada masa-masa Kerajaan Mataram, kemudian pada masa Kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian Batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu Kebudayaan Keluarga Raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian Raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut Raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.dan hingga saat ini semua kian menyebar keberbagai daerah di Indonesia.
2.2.5 Proses Pembuatan
Batik Secara umum proses pembuatannya melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam (lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain.
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum Wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga Istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik Wanita maupun Pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya Batik Tulis sampai awal abad XX dan Batik Cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi  bagian  pakaian tradisional Indonesia. Bahkan menjadi primadona Kota Pekalonan.




Gb.25 Pembuatan Batik Canting dan Canting (Alat untuk membatik )
                                                                               










Gb.26 Batik Cap (alat untuk pembuat Batik) dan pembuatan Batik Cap

2.3 Aset
Aset adalah pengakuan hak milik dalam hal ini Batik merupakan Aset milik Bangsa Indonesia terutama Batik Karya Pekalongan.

2.4 Karya Seni
Karya seni bisa di artikan sesuatu yang dapat menikmati karena keindahan dan merupakan karya seseorang. Dalam hal ini berarti karya seni tangan, seni gerak, seni rupa atau seni kreasi tangan.
Kaitanya dengan Batik, karena proses pembuatanya Batik adalah merupakan hasil dari gores tinta yaitu canting dan cariran malam yang di  tuangkan dalam kain putih dan berbentuk suatu objek yang bisa dinikmati keindahanya. Maka Batik bisa dimasukkan kedelam hasil karya seni.
Gb.27 Pembuatan Batik dikerjakan oleh Nenek-nenek
      


2.5 Kota Pekalongan
2.5.1 Asal-usul Kota Pekalongan
Asal-usul nama Kota Pekalongan sebagai mana diungkapkan oleh masyarakat setempat secara turun menurun terdapat beberapa versi. salah satunya disebut adalah pada masa Raden Bahurekso sebagai tokoh Panglima Kerajaan Mataram. Pada tahun 1628 Beliau mendapat perintah dari Sultan agung menyerang VOC (Vereenigde Ooss Indishe Compgnic/Perserikatan Maskapai Hindia Timur) di Batavia. Maka ia berjuang keras, bahkan diawali dengan bertapa seperti kalong/kelelawar (bahasa jawa “Topo Ngalong”) di hutan gambiran (sekarang kampong gambaran letaknya disekitar jembatan anim dan sorogeneng) berdasarkan artikel.
Dalam pertapaannya diceritakan bahwa Raden Bahurekso digoda dan di ganggu Dewi Lanjar beserta para prajurit siluman yang merupakan pengikutnya namun semua godaan Dewi Lanjar beserta para pengikutnya dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahurekso. Kemudian Dewi Lanjar yang merupakan utusan ratu Roro Kidul memutuskan untuk tidak kembali ke pantai tinggal di sekitar wilayah ini. Raden Bahurekso memenuhi permohonan ini bahkan Ratu Roreo Kidul juga menyetujuinya. Dewi Lanjar di pantai Pekalongan sebelah Sungai Slamaran. Sejak saat itu daerah tersebut terkenal dengan nama PEKALONGAN.
Dalam versi lain disebutkan nama pekalongan bersal dari istilah setempat HALONG-ALONG yang artinya hasil yang berlimpah jadi pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Nama pengangsalan ini ternyata juga ada didalam babad mataram (sultan agung),yaitu :
 “gegaman wes kumpul dadi siji. Samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane, lampahe lumintu, ing tirboyo lawan senawis, inglepentangi, Kendal, batang, tegal, sampun brebes lan pengangsalan wong pesisir sedoyotan ono kari, ing carbon ngertata”
Artinya :
“senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap. Maka prajurit diberangkatkan berlayar. Pelayaranya tiada henti-hentinya melewati tirbaya, semarang, kaliwungu,Kendal, batang,tegal, brebes dan pengangsalan, semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon untuk beranagkat ke Batavia untuk menyerbu VOC belanda).
2.5.2 Kota Pekalongan sebagai Kota Batik
Menurut pendapat mahrus muhaimin karena sebagian besar masyarakat pekalongan berprofesi membatik. Dan sudah sangat lam sekali Batik sudah menjadi Jiwa Kota Pekalongan
Menurut Sandra winarti, Batik dipekalongan motifnya sangat banyak dan beragam jenisnya. Dan Warna-warnanya sangat banyak dan baik dalm pemprosesan pembuatanya, sehingga konsumen puas akan hasil karyanya.
                     Berdasarkan survey yang telah di lakukan Oleh penulis kesimpulan darri beberapa pembatik adalah Pekalongan sangat baik. Karena dalam pemprosesan pembuatanya sangat teliti. Pekalongan merupakan kota yang paling dinamis dalam mengembangkan Batik, karena Batik sudah menjadi nafas hidup sehari-hari warga Pekalongan. Kota Pekalongan merupakan industri Batik terbesar di Indonesia dan sudah selayaknya kalau dijuluki sebagai KOTA BATIK.



BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Asal-usul Batik Pekalongan
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola Batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya Batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni Batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Gb. 28 Kaum Perempuan sedang membatik bersama

Jenis dan corak Batik tradisional tergolong amat banyak, namun namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.




3.1.1 Batik Pekalongan dan Sejarahnya
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan Batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan Batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif Batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.
Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di Kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah Kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan Batik.
Ke Timur Batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan Corak Batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat Batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka Batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini Batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan Kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai Bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni Batik.
Gb. 29 Perempuan Keraton sedang Membatik

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif Batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, Batik Pagi Sore, dan Batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

3.2 Motif Batik          
Batik Pekalongan termasuk Batik Pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas Batik Pesisir, Ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan Batik Pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan Batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pe Kalongan adalah Motif Batik Jlamprang.






Gb. 30  Batik Jlamprang  dan Batik Pesisir


Batik dengan motif Jlamprang atau di Yogyakarta dengan nama Nitik adalah salah satu yang cukup populer batik yang diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik merupakan pengembangan dari motif kain Potola India dalam bentuk geometris bintang atau kadang-kadang angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan. Berdasaarkan pengamatan penulis ciri yang menjadi khas Batik Pekalongan adalah Batik Pesisir yang beraneka ragam warna dan corak, dengan kombinasi yang dinamis. Dan dengan proses pembuatan yang sangat teliti.
Berdasarkan pengamatan dan penelitian penulis Batik-batik khas Pekalongan yang diminati para konsumen. Sehingga konsumen dan pemesan puas akan keindahan dan keistimewaanya.
Gb.31 Sebagian dari Batik Tiga Negeri







Menurut penelitian penulis motif ini sering dicari oleh konsumen, sehingga Batik ini menjadi khas para konsumen yang biasanya datang dari berbagai daerah.
Hal ini dikarenakan warnanya yang dominan dan gambar di kainya menarik. Dan para konsumen pun menjadi ingin membeli untuk di abadikan atau yang lainya.
Gb.32  Batik jawa hokokai
Batik yang bermotif seakan-akan  sangat hidup menjadi khas dan baik dimata para konsumen dan penggila batik. Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman. Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama ’Batik Jawa Hokokai’, yaitu Batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya Batik Jawa Hokokai ini merupakan Batik pagi-sore.
Pada tahun enampuluhan juga diciptakan Batik dengan nama Tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah Presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif Batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif Batik.
3.3 Alasan Batik sebagai Ciri Khas Pekalongan
Batik Pekalongan  menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, Batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.
Pasang surut perkembangan Batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan  layak menjadi ikon bagi perkembangan Batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk Batik. Karena terkenal dengan produk Batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu Batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.
Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus Batik Pekalongan.
Berdasarkan observasi penulis untuk mengetahui Pekalongan sebagai Esensi kota Batik ada berbagai macam pendapat yang intinya sama yaitu karena dari jaman lampau hingga sekarang Batik sudah ada dan berkembang pesat di daerah itu. Dan sudah menjadi jantung Kota Pekalongan.
Menurut Tobing “memang benar yang telah dinyayikan salah satu band faforitku yaitu slank” yang liriknya “Kota Batik di Pekalongan bukan Jogja bukan Solo” dan menurut penulis apa bila kita tamasya ke Pekalongan di sana pasti menjumpai Batik.



BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari uraian penulis yang telah dikemukakan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Batik adalah sebuah karya seni dan kreatifitas tangan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia,
2.      Maka Batik harus di jaga kemurnianya dan budaya dari nenek moyang ini haru dilestarikan bersama dan jangan dilupakan,
3.      Setiap kalangan biasa memakai Batik dan mempergunakanya sampai ajal menjemput,
4.      Berbagai macam Batik akan selalu menghiasi Indonesia dan terutama Kota Pekalongan.

4.2 Saran
Dalam kesimpulan ini penulis ingin memberikan saran dan semoga bermanfaat, antara lain :
1.      Lestarikan Batik dan peliharalah dan jangan sampai hilang atau rusak,
2.      Perliahatkan Batik pada Dunia bahwa Batik milik Bangsa Indonesia,
3.      Bangunkan Jiwamu dan bawalah Batik bersamamu untuk Negeri ini karena Jiwa-jiwa yang mempunyai hati nurani yang dapat memperjuangkan martabat Bangsa,
4.      Wujudkan impian yang telah mewariskan Batik kepada kita, sesungguhnya Dia telah percaya kepada kita.
DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Rusli. Pekalongan Kota Batik. http://kabarpekalonganraya.com/2009/06/27/membaca-filosofi-motif-batik/. (diakses tanggal 18 Desember 2010,pukul 21.08 WIB)

Wijaya, Santoso. 2009. Berbagai macam Batik Indonesia,  Yogyakarta; Balai Pustaka,

Anisa, Mira. Batik Pekalongan. http://batikpekalongan.wordpress.com/2007/11/23/batik-pekalongan/. (diakses  tanggal 29 Desember 2010 pukul 18.54 WIB)

Sandra. Asal-usul Batik dan Asal-usul Kota Pekalongan.  http://www.batikmarkets.com/batik_pekalongan.php. (diakses tanggal 17 Desember  2010 jum’at, 23.30 WIB)



LAMPIRAN LAMPIRAN
Gb.1 Batik Kraton
Gb.3 Batik Petani
Gb.5  jawa Hokokai
Gb.7  Primisan
Gb. 8  Dewa-dewa
Gb.6  Obar-abir
Gb.4 Batik Belanda
Gb.2  Batik Sudagaran


























Gb.9 Elica Woman Sarong
Gb.11  Garuda
Gb.10 Tiga Negeri






Gb.14 Jlamprang
Gb.13 Batik Pesisir
Gb.12 Sarong Van Zul Yen
    
    
Gb.15 Parang Curiga
Gb.17 Tirta Teja
Gb.19 Tulis Tiga Negeri Solo
Gb.21 Bung Harto
Gb.23 Gadis Cina
Gb.25 Pembuatan Batik Canting dan Canting (Alat untuk membatik )
Gb.24 Penjual Legen
Gb.22 Kompeni
Gb.20 Motif Salo
Gb.18 Parang Rusak
Gb.16 Parang Barong








































Gb.26 Batik Cap (alat untuk pembuat Batik) dan pembuatan Batik Cap

Gb.27 Pembuatan Batik dikerjakan oleh Nenek-nenek
Gb. 29 Perempuan Keraton sedang Membatik

Gb. 30  Batik Jlamprang  dan Batik Pesisir
Gb. 28 Kaum Perempuan sedang membatik bersama


























Gb.31  Sebagian dari Batik Tga Negeri
Gb.32 Batik Jawa Hokokai

1 komentar: